Ada
pelajaran dari Umar bin Khattab yang indah untuk diterapkan dalam
mengelola emosi dan cara kita mensikapi segala sesuatu yang kita hadapi.
Pelajaran tentang syukur dan syabar ini dituangkan dengan analogi yang
mudah sekali dicerna melalui kalimat Umar : “Jika sabar dan syukur itu adalah dua kuda tunggangan, maka aku tidak peduli aku harus mengendarai yang mana”.
Sikap yang selalu positif semacam ini-pun amat sangat berguna ketika
kita mulai terjun di dunia usaha atau investasi dalam bentuk apapun.
Dalam
mengamankan aset kita ke Dinar atau emas misalnya, pasti perasaan kita
ikut bergejolak ketika harga emas berayun dari angka tertinggi ke angka
terendah dan sebaliknya. Bagi yang orientasinya jangka pendek, bisa
kecewa ketika harga turun drastis seperti hari-hari ini.
Namun bagi yang memahami trend jangka panjang,
maka bisa jadi harga-harga rendah sekarang menjadi peluang tersendiri
untuk lebih banyak mengamankan asetnya ke Dinar atau Emas mumpung daya
beli Rupiah dan Dollar lagi perkasa.
Dalam
investasi atau usaha sektor riil-pun demikian, tidak selamanya mulus.
Guncangan-guncangan akan terjadi terutama justru di awal usaha ketika
kita belum terlalu siap, oleh karenanya bagi pemula yang tidak tahan
banting mayoritasnya akan berakhir di death valley.
Tetapi bagi para calon pengusaha sejati, justru death valley inilah kawah condro dimuko-nya.
Bila dia berhasil melalui-nya sementara mayoritas orang tidak sabar
untuk menempuhnya, maka hanya akan menyisakan sedikit saja pemain yang
sungguh-sungguh mumpuni dibidang yang dipilihnya.
Saya ambil contoh nyata usaha sektor riil saya yang paling dalam dan lama death valley-nya
yaitu peternakan kambing. Nampaknya sederhana hanya beternak kambing,
orang-orang desapun mampu melakukannya dengan baik. Di atas kertas
hitungannya juga begitu menarik, lantas apa masalahnya ?.
Ternyata
ketika usaha peternakan kambing ini mau kita tingkatkan menjadi skala
industry, segudang masalah itu datang silih berganti. Mulai dari masalah
tenaga kerja yang kurang terampil, masalah kandang yang tidak ekonomis
dan tidak tahan lama, masalah produksi susu yang tidak sesuai harapan,
tingkat kematian yang tinggi, supply pakan yang tidak mencukupi
dlsb-dlsb.
Mungkin
karena segudang masalah ini pula sehingga industry perkambingan belum
berkembang di negeri ini. Peternak yang pandai lumayan banyak, demikian
pula para blantik di pasar kambing juga jago-jago, tetapi
secara keseluruhan industri kambing dan produk-produk turunannya nyaris
belum muncul secara berarti di negeri ini.
Disinilah
kuda Umar tersebut diatas menjadi begitu penting, dalam hal beternak
kambing saya lagi menunggangi kuda sabar saat ini. Ternyata tidak kalah
indahnya dengan kuda syukur yang pernah saya tunggangi di sektor-sektor
bisnis yang lain.
Saya bayangkan saat ini saya sedang berada di punggung kuda sabar menelusuri lembah yang namanya death valley
peternakan kambing, indahnya adalah karena lagi berada di lembah kini
saya melihat hanya ada satu jalan, yaitu naik !. Satu demi satu masalah
kita atasi, masalah tenaga kerja solved, masalah kandang solved secara par excellence, masalah kesehatan solved, masalah pakan belum solved namun malah berpeluang untuk menjadi industry tersendiri dengan lahirnya solusi alfalfa.
Dan
justru dari berbagai kesulitan dan masalah tersebut diatas kini kami
bisa memformulasikan visi usaha sektor riil yang kami tuangkan dalam
kalimat singkat “From Seed To Plate...”. Mulai dari biji-biji yang kita tanam untuk menumbuhkan alfalfa,
setelah tumbuh untuk memberi makanan bergizi bagi kambing-kambing kami,
sebagian diambil susunya untuk produk-produk berbasis susu, sebagian
anak-anak yang jantan dan betina yang apkir untuk menu kuliner berbasis
kambing, dst.
Saya
hanya berharap kuda sabar yang kini sedang saya tunggangi ini cukup
kuat untuk mengantarkan saya naik ke bukit, dimana dia boleh istrirahat
dan saya melanjutkan perjalanan dengan kuda yang lain, yaitu kuda
syukur. Alhamdulillah keduanya nikmat untuk ditunggangi sebagaimana
diungkapkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam nan
indah “Sungguh menakjubkan urusan
seorang mukmin, semua urusan baik baginya dan kebaikan ini tidak
dimiliki oleh selain seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia
bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah
ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.” HR. Imam Muslim. Alhamdulillah…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar